Sunday, February 29, 2004

Demokrasi Ala Malaysia



Police use water cannon to disperse ‘police abuse’ demo, 17 arrested
- Malaysiakini

Yap Mun Ching
11:02am Sat Feb 28th, 2004

Police arrested 17 activists for illegal assembly after using chemical-laced water cannon to disperse a crowd, which was gathered there to protest against alleged police abuse of power and brutality.

Key Keadilan leaders Tian Chua, R Sivarasa, Dr Xavier Jayakumar and Latheefa Koya are among those arrested. Also taken in are human rights activists Elizabeth Wong and Eric Paulsen.

In all, 17 people - 13 males and four females - were taken by the police to the city police headquarters in Jalan Hang Tuah.

They were all released by 6pm after recording their statements with the police.

Artist-activist Fahmi Reza, 27, was the last one out as police had found him to be in possession of a paper cutter.

Lawyers representing the group, N Surendran, M Manogar and Ramdas Tikamdas said they were denied access to the group until their release this evening.

About 60 people had gathered since this morning at the Bukit Aman police headquarters to protest against "numerous incidents" resulting from abuse of police powers.

They had put up posters and banners highlighting several examples of police abuse.

'Proves our point'

Eye witnesses say an equal number of police, if not more, were present as well.

"The police exposed the brutality the demonstration was about and they took the whole gathering very personally," one participant told malaysiakini.

Sivarasa, just after his arrest, said: "Feel the chemical on your skin... this is police brutality. This proves what we have been saying."

According to human rights organisation Suaram, Fahmi - who was the first to be arrested - was beaten and trampled on.

"The police tried to take away his glasses and belongings, but Fahmi resisted. He is bruised and his shirt was torn," said Suaram's Mary Agnes James.

James added that both human rights activist Wong and Keadilan vice-president Tian Chua "were also manhandled by the police and sustained bruises and injuries".

All three had lodged a police report against the assault.

The gathering was organised by the Coalition Against Police Misconduct, an initiative set up under human rights organisation Suaram.

The coalition, which is backed by 46 NGOs and political parties, is calling for inquiries into numerous complaints of abuse of power including the high incidences of police shootings.

Effective way

When met, Kuala Lumpur police chief Mustafa Abdullah defended the use of the water cannon, saying that was most effective way for a quick dispersal of the crowd.

He also said that he was only expecting a memorandum handover from the organisers.

"This is what they told us and we were ready to accept a memorandum from three representatives of the group. However, they wanted to bring in at least seven people," he said.

"Things got out of control when the crowd sat down to protest and refused to move even after we told them to disperse".

Three Human Rights Commission (Suhakam) officers were also present to witness the peaceful demonstration.

In an early reaction, legal adviser to the Police Watch and Human Rights Committee P Uthayakumar called for the royal police commission to investigate the incident this morning.

"We urge the police commission to set up a special inquiry panel within 48 hours to investigate this police abuse," he said in a statement.

Uthayakumar, who is the chairperson of the pro tem Parti Reformasi Insan Malaysia, also called for Dang Wangi police chief Hadi Ho Abdullah who oversaw the operation to be suspended pending investigations.

Thursday, February 26, 2004

"STOP MISUSE OF POLICE POWERS" / "HENTIKAN SALAHGUNA POLIS"

The Coalition Against Police Misconduct will be having a mass assembly to protest the numerous incidentsinvolving the misuse of police powers especially involving the deaths of suspects while in police custody and by police shooting, abuse of remand procedure, dispersal of peaceful assemblies and prevention of distribution of leaflets. The situation is worsened by the absence of justice to victims of police brutality and all complaints have not had satisfactory response in terms of independent and transparent investigations, disciplinary action or prosecution of the offending police personnel.

Therefore we are calling all to attend the assembly to provide support and thereby send a strong message that
the police will not be allowed to act they please, and all forms of abuse of police powers must be stopped immediately.

"STOP MISUSE OF POLICE POWERS"
Assembly Against Misconduct of the Police


Date: 28 February, 2004 (Saturday)
Time: 10.00 am
Venue: Police Headquarters Bukit Aman
(Lake Garden entrance, Off Jalan Parlimen)

Organised by The Coalition Against Police Misconduct.
Tel: 03 - 7782 0357 / 013 - 377 1473;
E-mail: suaram@suaram.org

Please help to disseminate the news of this event to your friends and network.


Kongres ‘budaya pop’ Melayu? - Fathi Aris Omar

Seorang teman saya mengajak kami mengadakan semacam ‘kongres’ di kalangan penggiat muda seni budaya - katanya tentang ‘budaya pop’, khususnya Melayu. Ia mahu disegerakan.

Tetapi idea mengadakan kongres nasional di kalangan anak muda bukan idea baru teman-teman saya. Namun, saya sangat sedar apa erti atau signifikan ‘kongres’, ‘diskusi’ atau ‘wacana’ di negara ini.

Seperti juga projek penerbitan di kalangan anak muda, kongres atau sebut sahaja diskusi tidak mungkin ‘dijayakan’. Pengalaman berdepan dengan anak muda - di segenap peringkat dan dalam pelbagai kelompok - sangat mengecewakan.

Misalnya aktivis siswa yang kritis terhadap kerajaan atau anak-anak muda yang menyertai Gerakan Reformasi serta badan bukan kerajaan (NGO), bagaimanakah sikap mereka terhadap ilmu dan ketekunan merumus persoalan bangsa?

Walau mereka menuntut ruang (kononnya!), atau mahu suara mereka didengari, atau ingin difahami tetapi kematangan hujah, hasil kerja dan tindakan masih jauh daripada memuaskan.

Bangsa ini patut berasa malu melihat kedaifan anak muda, tidak setanding tuntutan kontemporari, tetapi dalam ketakutan orang tua bergayut pada jawatan masing-masing, mereka tidak pernah berasa malu.

Ketajaman idea

Minggu Penulis Remaja (MPR) anjuran Dewan Bahasa dan Pustaka saban tahun tidak berjaya menghasilkan karya dengan tekal, jauh sekali ingin membicarakan soal mutu, kepelbagaian atau ketajaman idea.

Ahli-ahli akademik muda di institusi pengajian tinggi, yang telah mendapat gelar doktor falsafah menjelang usia 30-an, tidak menampakkan apa-apa hasil. Malah disebut-sebut bakal mewarisi ‘profesor kangkung’ dalam dunia akademia kita.

Anak-anak murid mereka yang belajar dalam bidang media, seni dan kesasteraan misalnya tidak mampu menulis dengan baik! Malah tidak kurang yang lari ke bidang lain atau hanya mahu menjadi guru. Editor kanan atau penulis kolum pula, apakah mereka boleh dibanggakan dan dijadikan contoh?

Persatuan-persatuan penulis negeri, ke manakah mereka? Sasterawan-sasterawan lama pula di mana? Bagaimana mereka melihat persoalan kebebasan dengan feudalisme, individualisme dengan globalisasi, budaya pop era pascamoden dengan tradisi tempatan? Apakah sikap dan analisa mereka terhadap isu-isu mendesak bangsa dan negara ini?

Bagi saya, anak muda terlalu lembik, sementara cendekiawan dan tokoh yang ada tidak mampu memberi teladan minda serta daya gerak kepada mereka. Dalam sebuah rencana di Akhbar Mahasiswa, saya berhujah; "Mahasiswa, belia dan orang muda tidak merdeka diri, tidak mencari serta merumus persoalan bangsa ini dan negara dengan jujur, serta tidak berani menganjurkan reformasi sosial dari perspektif mereka sendiri.

"Generasi muda, termasuk siswa, hanya menempel pada struktur sedia ada dan mengunyah idea yang disogokkan. Mereka tidak berfikir, berinteraksi dan berbahas dengan kelompok-kelompok lain di kalangan generasi muda tetapi meletakkan kesetiaan pada struktur sosial yang dibolot oleh orang tua."

Arus globalisasi

Kepada teman itu, saya cadangkan kita melihat ‘budaya pop’ atau komersialisme seni budaya dengan lebih syumul; bukan secara serpihan kerana penghasilan idea melibatkan aspek penjanaan idea. Idea kita mesti dapat bersaing di peringkat antarabangsa kerana pasaran tempatan tidak cukup untuk menampung semua projek budaya pop.

"Kita harus cepat-cepat membina prasarana - khususnya ‘prasarana idea’ yakni kebebasan bersuara, demokrasi, hak asasi, wacana rancak serta mendalam dan pertemuan ilmiah - bagi membolehkan idea, termasuk seniman dan produk seni, negara ini bersaing dengan kekuatan idea, teknik dan mutu seni dalam arus globalisasi," kata Jimadie Shah Othman, penulis muda dari Universiti Malaya.

"Prasarana idea membolehkan aliran idea yang bebas, kepelbagaian sudut pandangan, menyuburkan imaginasi, menghalusi kritikan dan menajamkan kreativiti."

Sementara Buddhi Hikayat pula dalam ‘Mantapkan mekanisme seni’ mempertikaikan aspek pengurusan seni yang tidak memuaskan: "Produk seni, khususnya yang bermutu, tidak akan sampai kepada masyarakat jika kegiatan seni tidak menjamin kerjaya atau kebajikan seniman atau pekerja seni.

"Kegiatan seni yang bermusim dan gagal diurus secara profesional, serta gagal menjaga semua peringkat pekerja, akan menimbulkan kesan-kesan buruk kepada produk seni."

Dua penulis ini juga mempertikaikan soal kongkongan politik dan kebebasan kreatif yang sangat terbatas di negara ini tetapi malangnya tidak dipedulikan secara serius dan lantang oleh kelompok seni. Tidak pernah ada aduan atau memorandum dihantar kepada Suruhanjaya Hak Asasi Manusia (Suhakam), misalnya.

Pradigma baru

Tetapi hairannya, Johan Jaaffar nampak sebaliknya. Bekas wartawan kanan di Utusan Malaysia ini percaya sasterawan negara kita boleh memenangi Hadiah Nobel, menjelang 2010!

"Now, the good news is, we do have some truly talented writers of world calibre. But what have we done ‘to promote’ them?" tulisnya di New Straits Times.

Sebelum itu beliau berhujah tentang ‘sastera Melayu’ dan ‘sastera Malaysia’ sebagai menyelesaikan kemelut tiada sambutan terhadap kegiatan sastera. Seperti mentaliti Dasar Kebudayaan Kebangsaan 1971, Johan terperangkap dalam merumuskan sastera Melayu sebagai ‘teras’ sastera Malaysia. Baginya, saranan ini sejenis ‘paradigma baru’. Apa relevannya soal ini kepada Hadiah Nobel?

Dalam Berita Minggu pula, tokoh ini tidak pernah ingin menyentuh persoalan kebebasan kreatif dengan jelas dan berani. Nampak benar luahan rasanya tidak merdeka, walau kelihatan beliau sedar beberapa perkara penting yang menghimpit kejayaan seni dan produk ‘budaya pop’ kita.

"Seniman harus diberi kebebasan, tetapi tentunya dalam kerangka yang munasabah dan berpatutan," tulisnya di Berita Minggu. Kebebasan munasabah dan berpatutan, apakah persoalan ini agendanya? Atau, kawalan yang tidak munasabah dan tidak berpatutan harus menjadi agenda kita bersama?

Garis panduan persembahan pentas Dewan Bandaraya Kuala Lumpur (DBKL) yang diperkenalkan lewat tahun lepas telah memakan korban teater seperti Election Day (bulan lepas) dan Projek Suitcase 2003 (Disember tahun lalu). Akan datang, siapa dan apa lagi?

Johan tidak berfikir panjang walau, dalam kolum akhbar Inggeris itu, beliau menyebut sekali imbas "kesasteraan berkait rapat dengan ekspresi kreatif dan imaginasi". Nampaknya belum tuntas hubungan kawalan politik ini dengan imaginasi dirumuskan oleh kita.

Jika Johan yang dianggap boleh berfikir dan sedikit kritis juga masih terbelenggu dengan wacana lama yang sudah terbukti gagal, bagaimana kita boleh mengharapkan anak muda sastera dan seni budaya - yang selalu meniru-niru tabiat buruk ‘industri’ dan wacana lapuk sekarang?
--------------------------------------------------------------------------------
Sumber:

Buddhi Hikayat, ‘Mantapkan mekanisme seni’, Mingguan Malaysia, 15 Februari 2004

Fathi Aris Omar, ‘Siswa, seluar pendek dan kesetiaan’, Akhbar Mahasiswa, November 2003

Jimadie Shah Othman, ‘Globalisasi, seni dan seniman’, Mingguan Malaysia, 22 Februari 2004

Johan Jaaffar, Looking for Malaysian literature, New Straits Times, 5 Januari 2004

Johan Jaaffar, ‘Jadikan KL kota budaya, …’, Berita Minggu, 1 Februari 2004

Tulisan ini asalnya diterbit dalam Malaysiakini.com (24 Februari 2004). Ia diterbitkan semula di sini dengan izin penulisnya. Beliau dapat dihubungi di fathiaris@yahoo.com

Sunday, February 22, 2004

Kepada semua umat Islam, saya ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru Muslim! Happy Muslim New Year!

Saturday, February 21, 2004

Pilihanraya semakin hampir

Bahang pilihanraya umum yang ke 11 semakin dirasai dan dijangkakan parlimen akan dibubarkan pada bila-bila masa dari sekarang. Media-media arus perdana tempatan dan juga media asing telah mula membuat ulasan dan liputan berita pra-pilihanraya.

Di beberapa kawasan, bendera-bendera parti yang masih baru sudah mula berkibar megah di atas-atas pokok di sepanjang jalan utama. Namun begitu, suasana panas dan pesta yang dirasai semasa pilihanraya 1999 masih belum dirasai dan ini sudah tentunya disebabkan oleh senario yang berbeza pada waktu itu.

Namun yang pastinya, suasana tenteram dan sunyi ini pasti akan bertukar secara serta merta apabila tiba masanya Pak Lah membuat pengumuman pembubaran parlimen. Pesta demokrasi ala Malaysia akan semakin rancak dan tegang semasa tempoh kempen dijalankan.

Apabila semakin tiba pilihanraya, persediaan mental harus ditingkatkan untuk menapis semua maklumat yang disampaikan baik daripada pihak pemerintah ataupun pembangkang. Stesen televisyen dan media arus perdana terutama yang berbahasa Melayu hanya layak ditonton dan dibaca oleh pembaca yang memiliki sumber maklumat yang pelbagai. Kepada yang tidak memilikinya, amaran awal kepada golongan ini bahawa ia boleh membawa kemudaratan yang agak besar dari segala aspek.

Bagi aku, pilihanraya umum ini pastinya akan mencatat sejarah dan satu fasa baru di dalam kehidupan aku sebagai seorang insan yang bernama Zulhabri Bin Supian, pengundi di DUN Seri Andalas, Parlimen Kota Raja, rakyat negeri Selangor dan rakyat negara Malaysia yang tercinta ini.

Parti mana yang akan diundi adalah rahsia walaupun mereka yang mengenali aku sejak 5-8 tahun lepas mungkin sudah dapat mengagak parti mana yang akan dipilih olehku, salah seorang daripada pengundi muda pada pilihanraya umum ini.

Namun harus diingatkan bahawa pilihanraya bukanlah satu-satunya petanda kewujudan dan pengamalan demokrasi di negara ini. Ia hanyalah salah satu jalan bagi kita rakyat Malaysia yang prihatin untuk menyuarakan suara dan hasrat diri dan masyarakat. Aktiviti-aktiviti yang bersifat demokrasi yang lain seperti demonstrasi, ceramah, kelas pencerahan, pesta seni, penerangan, diskusi, debat dan sebagainya perlu diadakan sepanjang masa tanpa mengambilkira faktor pilihanraya.

Walaubagaimanapun, diharap pilihanraya kali ini tidak akan dicemari dengan budaya-budaya yang tidak bertamadun dan diharap pihak polis dan SPR dapat bersikap adil di dalam setiap tindakan mereka. Di samping merayakan pesta demokrasi ini, rakyat Malaysia seharusnya tidak lupa untuk mendesak agar SPR dapat menjadi suatu badan pengendali pilihanraya yang bebas seperti mana di Indonesia, Thailand dan Filipina.

Semakan Daftar
Berita Pra-Pilihanraya

Friday, February 20, 2004

Tahniah Skuad Piala Uber!

Skuad wanita Malaysia yang diterajui oleh Wong Mew Choo telah berjaya mencipta satu sejarah baru untuk layak ke pusingan akhir Piala Uber 2004 di Jakarta secara merit buat pertama kalinya. Tahniah kepada semua!

Malaysian Women Shuttlers March To Jakarta Finals


Buai Laju-Laju

Filem Buai Laju-Laju ini adalah antara filem-filem Malaysia yang ditunggu-ditunggu untuk ditonton di pawagam pada tahun ini. Selain daripada itu, beberapa buah filem lagi adalah Buli yang akan mula ditayangkan pada 11 Mac ini, Ah Lok Kafe yang akan ditayangkan seminggu selepasnya serta filem epik Puteri Gunung Ledang.

Filem arahan U-Wei Saari ini diterbitkan oleh Julia Fraser melalui syarikat penerbitannya, LeBrocquy Fraser Productions Ltd. Filem ini akan dipertontonkan kepada umum buat pertama kalinya pada Festival Filem Antarabangsa Singapura ke 16 yang akan berlangsung dari 17 April hingga 3 Mei.

Untuk pengetahuan, LeBrocquy Fraser Productions adalah syarikat yang menerbitkan filem Osama yang telah memenangi anugerah Filem Asing Terbaik di Golden Globe baru-baru ini. Selain daripada filem ini, hasil seni U-Wei lain yang dinanti-nantikan adalah sebuah filem yang bertajuk Almayer's Folly. Filem ini sedang di dalam proses awal pembikinan.

Apapun, tahun 2004 dilihat akan dapat memberikan suatu harapan yang tinggi kepada peminat filem Malaysia dengan penayangan filem-filem yang menarik (ikut takrifan aku), kebangkitan pengarah filem muda dan juga kemeriahan industri perfileman Melayu yang semakin banyak menerbitkan filem.

Buai Laju-Laju di Filem Kita


Ulasan Urbanscapes di The Asian Wall Street Journal, 13 February 2004

Arts: A Breath of Fresh Air --- Will Malaysia's New Leadership Loosen the Hold Over the Arts?
By Azhar Sukri

KUALA LUMPUR -- "I just want you to jump -- Don't worry if things bounce a little!" shouted dreadlocked Malaysian pop sensation Reshmonu to his screaming fans, most of them women, some wearing traditional Muslim headscarves.

Earlier this month, many Malaysian Muslims made their way to the holy Saudi Arabian city of Mecca for a once-in-a-lifetime pilgrimage. At about the same time, miles away, several thousand of Kuala Lumpur's youth were getting down at Urbanscapes -- the country's biggest one-day arts and music festival in about seven years. The festival took place just outside the grounds of Sentral, the city's new train hub connecting to Kuala Lumpur International Airport.

Long-haired "Mat-rockers," mostly young ethnic Malay men with a penchant for death-metal music and leather jackets -- partied with Chinese and Indian girls in skimpy tops to a heady mix of new-school dance music. Animated short films featuring exploding frogs and decapitated heads ran alongside images of former Prime Minister Mahathir Mohamad juxtaposed with pictures of toilets.

In Malaysia, where censorship is alive and well, it is remarkable that Urbanscapes took place at all. Plays and concerts considered too sexy, or "critical of Malaysian values," are still heavily cut or even banned by the authorities. Just weeks before the festival, Muslim conservatives asked for a ban on an upcoming Mariah Carey concert in Kuala Lumpur because they found her stage outfit too revealing.

To many outsiders, Malaysia represents a bewildering set of paradoxes. Kuala Lumpur has long had a thriving, though underground, gay scene. Yet sodomy was one of the crimes charged against former Deputy Prime Minister Anwar
Ibrahim, who was sentenced in 2000 and remains in prison. Open discussion about homosexuality is still one of the greatest taboos.

Another confusing incident happened just last week. Kuala Lumpur City Hall, the licensing authority for plays and other artistic events, said it would not allow the play "Election Day." The body had, in fact, allowed the play to be performed four years ago, but has now decided that its references to Volkswagen cars and a leading local pharmacy chain may tread on political or commercial sensitivities, and thus make it "too real."

For most Malaysians, though, such contradictions are part of their country's character, and rarely get in the way of more pressing matters such as putting their kids through university. "There's a kind of mediated freedom here," said Sulin Chee, a writer for the lifestyle magazine Klue that organized the Urbanscapes event. By many Western standards, Urbanscapes may not have been such a wild celebration. But for Malaysia, it was an anti-establishment breath of fresh air, fuelled by alcohol and youthful creativity.

The last similar event in the city was a clandestine dance party held at the former Pudu Prison in central Kuala Lumpur in 1997. The event, which attracted almost 1,000 people, featured artists who adorned the walls of jail cells with political works. In the past, organizers have occasionally staged massive, illegal, house music raves in the middle of rain forests or on the palm-fringed beaches of tiny islands.

So perhaps the greatest paradox of all is that Urbanscapes 2004 was fully endorsed by the Kuala Lumpur city government. Does this mean that the country's new leadership may be ready to loosen the reigns on its youth?

The jury is still out. "I don't know whether we're getting any more freedom of speech under the Pak Lah," says Charles, an ethnic Chinese businessman, referring to Mr. Mohammed's successor Abdullah Ahmad Badawi. "People can still say a lot of things; just look at the newspapers. Just don't talk about certain things, that's all." Those "certain things" tend to be anything to do with race, religion or politics.

While sensitive issues such as politics, race and homosexuality are regularly explored by artists, their outlets tend to be on media which the majority of Malaysians do not have access to. Radiq Radio, for example, was allowed to broadcast its news on human rights and social issues, including several stories on disadvantaged, mostly ethnic Indian, plantation workers.

But the station was unofficially told that its messages would only be tolerated on the Internet, and that its free-to-air broadcasts would be watched more carefully.

Urbanscapes, however, attracted a significant number of artists and activists who have felt the long arm of Malaysian authorities. Perhaps it was their presence, even more than the alcohol and lewd lyrics, which made the festival unique.

One of the exhibits at Urbanscapes was "Just Duit," a seven-minute film by journalist Kean Wong, architect Nani Kahar and political activist Hishamuddin Rais. "Duit" is the Malay word for "money," and refers to an increasingly consumerist Malaysian society. The film, played on a continuous loop, juxtaposed images of Mr. Mahathir with pictures of toilets.

"It's sort of an expression of how the authorities flushed my life away for two years," explains Mr. Hishamuddin. He was released from prison six months ago after being jailed along with other activists under the country's Internal Security Act, which allows for detention without trial for crimes considered a threat to national security.

It may be too soon to tell if the government is really loosening its hold. But after 22 years of Mr. Mahathir's rule, the handover of power to Mr. Abdullah last year has raised hopes that the government will allow greater freedom of artistic expression. Mr. Hishamuddin, for one, is cautiously optimistic. "After the changeover, people are hoping there could be a
process of democratization. If this event is a manifestation of that, then so be it."

Thursday, February 19, 2004



Siswa perlu ‘bahasa baru’ - Fathi Aris Omar

"A new conflict zone, in place of the virtualized class antagonism and apart from the disparity conflicts at the margins of the system, can only emerge where advanced capitalist society has to immunize itself, by depoliticizing the masses of the population, against the questioning of its technocratic background ideology: in the public sphere administered through the mass media." – Jurgen Habermas dalam Toward a Rational Society.

Tidak hanya siswa, rata-ratanya masih dianggap mentah, malah banyak lagi kelompok – misalnya wartawan, seniman, ahli politik atau profesional – juga gagal memahami kesan pembentukan nilai, bahasa dan luahan rasa akibat ruang demokrasi negara ini yang terbelenggu.
Kita semua, jika tidak cermat, pasti gagal berprestasi seiring dengan cabaran zaman yang semakin kompleks. Banyak perkara yang sedang bergerak di depan mata sendiri gagal difahami. Kita menduga kita telah memahaminya tetapi tindakan kita bertentangan dengan kehendak perubahan yang pantas.

Antara persoalan terpenting – bagaimana memecahkan ‘kebuntuan politik’ yang telah membentuk kita semua. Persoalan kebebasan rakyat dengan kawalan negara, kedudukan individu dalam masyarakat, hubungan fikiran seseorang dengan sosialisasi persekitaran (sejak kecil) tidak difahami oleh golongan pelajar, termasuk aktivis mereka yang paling lantang!

Jika kita meminta mereka membahaskan hubungan-hubungan ini, sama ada bertulis atau lisan, pasti kita dapat kesan kedangkalan atau keterbantutan idea. Rupa-rupanya mereka tidak memahami persekitaran mereka sendiri. Seolah-olah mereka menceburi aktivisme dengan menutup kedua-dua mata dan telinga.

Jika mereka sendiri mundur, bagaimana mungkin aktivis siswa dapat menawarkan sesuatu yang lebih ‘maju’ kepada masyarakat? Tidak hairanlah, sesiapa sahaja yang mendekati siswa akan berjaya mempengaruhi mereka dan dengan rela mereka menganut idea-idea itu tanpa berfikir lebih kritis.

Klon baru

Aktivis siswa, khasnya yang sudah dianggap ‘senior’, kemudian menjadi ‘agen yang telah diprogramkan’ untuk membiakkan klon-klon baru aktivis. Sebab itu, di kalangan pelajar Islam, kita temui klon-klon PAS, Umno, Angkatan Belia Islam Malaysia (Abim) atau Pertubuhan Jamaah Islah Malaysia (JIM).

Tidak sedikit daripada mereka bersifat dogmatik, tertutup atau fanatik dengan idea kumpulan masing-masing. Zaman penulis dulu, antara 1987 hingga 1990, menyaksikan perseteruan yang dahsyat akibat dogmatisme kelompok antara beberapa kumpulan Islam ini.

Memang, dari luar kelihatan aktivis siswa berfikiran kritis. Tetapi terhadap apa dan siapa? Dan, bagaimana fikiran kritis itu terbentuk? Berfikiran kritis, walau sepatutnya menjadi sifat peribadi yang penting untuk menilai persekitaran, tidak menjadi disiplin peribadi yang independen.

Sebab itu, kritikan atau minda kritis pelajar Islam tidak bebas daripada ungkapan dan perspektif (malah, nada atau gaya!) PAS, Abim atau JIM. Oleh kerana kerajaan Barisan Nasional musuh mereka bersama, maka kritikan aktivis pelajar tentulah kepada kerajaan.

Tetapi belum tentu mereka akan kritis terhadap hal-hal lain, apatah lagi terhadap kelompok sendiri. Berfikiran kritis itu sendiri hanya ada satu sisi (iaitu: terhadap kerajaan BN dan masyarakat), bukannya dari jiwa yang merdeka terhadap apa-apa sahaja. Bersifat kritis bukannya disiplin minda yang tulen di kalangan aktivis siswa tetapi akibat sogokan sudut pandang yang terhad oleh penaung-penaung mereka.

Sogokan sudut pandang datang bersama proses yang panjang, bermula daripada tempoh sosialisasi sejak kecil di rumah, pendidikan rasmi (termasuk universiti), pendedahan kepada media massa (propaganda) dan juga adat resam masyarakat.

Dasar mengekang

Di sekolah dan kampus, sogokan itu terbentuk melalui sukatan pelajaran, pengkhususan ilmu dan peraturan. Media massa pula mempunyai pembingkaian (news framing) dan penetapan agenda (agenda-setting), sama ada akibat kongkongan kerajaan, kepentingan pemilik syarikat, kecekapan editor atau tanggapan penulis.

Sosialisasi – proses memindahkan nilai ke dalam diri kanak-kanak daripada persekitaran – di dalam dan di luar rumah dipengaruhi nilai dan ‘projek’ ibu bapa (terhadap anak) yang berinteraksi dengan lingkungan yang lebih besar.

Di negara kita, lingkungan itu boleh disebut sebagai warisan dasar-dasar mengekang Umno-BN, dasar penjajahan Inggeris dan amalan konsevatisme-feudalisme Melayu sejak beratus-ratus tahun. Tidak dilupakan, warisan kesultanan Islam yang autokratik dan wabak taklidisme ummah.

Ia semacam social conditioning yang tidak disedari, tetapi berulang-ulang dihayati, proses pembudayaan halus serta perlahan-lahan dalam masyarakat. Ia berjaya membentuk jiwa (psyche) atau akal bawah sedar seseorang sehingga melimpah ke alam mimpi atau resah batin tanpa dapat lagi diselami secara sepenuhnya rasional – jika kita gagal membongkar sejarah dan mengenali batu-batu tanda kesesatannya.

Mungkin istilah-istilah ‘sindrom kebergantungan’ (dependency syndrome) atau ‘Stockholm syndrome’ membawa gejala penyakit yang sama.

Di kalangan aktivis siswa, saya nampak tradisi berhujah dan berdebat sudah semakin merosot. Ramai pula yang malu bertanya tetapi suka mencatat, bukan merenung buah-buah fikiran yang disampaikan penceramah.

Malah semangat bertanya di kalangan mereka sering dibayangi jiwa "saya budak baru belajar, mana yang salah tolong tunjukkan" – membayangkan rasa rendah diri atau tiada keyakinan tetapi suka sekali disogok (pengetahuan).

Kurang menulis

Mereka juga kurang menulis di akhbar-akhbar dengan idea atau kupasan bernas tentang isu-isu besar. Kenyataan-kenyataan akhbar tentang saranan mengharamkan konsert atau membantah sambutan ‘Hari Kekasih’ tidak ubah idea yang sering ‘dikitar-semula’ sejak 20 tahun lalu! Mungkin juga, mereka kurang membaca, khususnya pelbagai disiplin ilmu di luar bidang kursus masing-masing.

Bagi saya, ini semua kesan nyata minda dan jiwa terbelenggu, suka menunggu arahan, ibarat "pahat dengan penukul." Belenggu memang menjadikan seseorang tidak merdeka, mematikan daya usaha dan keyakinan diri.

Hakikatnya, generasi muda adalah projek pengklonan sesebuah masyarakat. Tetapi siswa hanya berjaya melepaskan diri daripadanya jika kita menyedari faktor-faktor yang telah membesar dan mendewasakan kita.

Ini termasuk, menyedari proses indoktrinasi kelompok (disebut juga: usrah, latihan, diskusi, tamrin atau seminar) yang sedang memacu minda siswa. Jika mereka gagal mengesan landasan-landasan kongkongan ini, tentu sekali mereka akan selama-lamanya menjadi sekadar bidak catur organisasi-organisasi besar di luar diri mereka.

Mereka tidak mungkin membebaskan diri daripada belenggu kelompok dan masyarakat, apatah lagi belenggu kerajaan yang tidak demokratik. Lalu, nilai-nilai demokratik tidak dihayati oleh aktivis siswa yang melaung-laung demokrasi itu sendiri!

Budaya baru atau bahasa baru tidak tumbuh daripada gerakan siswa ini kerana kealpaan mereka untuk membongkar semua proses pemasungan minda sejak kecil lagi. Sebab itu, saya ingatkan aktivis siswa, separuh daripada minda mereka masih lagi dibelenggu kerajaan walau mulut mereka lantang sekali mengkritik kerajaan!
--------------------------------------------------------------------------------
Dihuraikan kembali daripada isi-isi ceramah ‘Peranan media dalam memperjuangkan hak siswa’ kepada aktivis-aktivis pelajar dalam majlis ‘Perundingan Siswa Kebangsaan’ di Kajang, Selangor pada 8 Februari 2004
Sumber:

Cicourel, Aaron (1974) Cognitive Sociology: Language and meaning in social interaction, New York: The Free Press

Habermas, Jurgen (1971) Toward a Rational Society, London: Heinemann Books

Kaplan, David dan Manners, Albert (1999) Teori Budaya (terj. The Theory of Culture), Jogjakarta: Pustaka Pelajar

Popper, Karl (1994) Knowledge and the Body-Mind Problem, London: Routledge

Tulisan ini asalnya diterbit dalam Malaysiakini.com (16 Februari 2004). Ia diterbitkan semula di sini dengan izin penulisnya. Beliau dapat dihubungi di fathiaris@yahoo.com


Citizens group to monitor election media coverage, launches weblog- Malaysiakini

Beh Lih Yi
2:39pm Wed Feb 18th, 2004

A social reform group has launched the first election media monitoring weblog in the run-up to the general election to keep track of news coverage and media ethics.

"As citizens of this country, Malaysians have every right to demand fair media coverage so that voters can make informed choices when casting their ballot.

"It is therefore crucial that we investigate whether each of the contesting political parties gets a fair hearing in the mass media," said the project’s joint coordinators Dr Mustafa K Anuar and Anil Netto in a statement today.

The weblog known as ‘Malaysian Election Media Monitors’ was launched yesterday by the Penang-based movement, Charter 2000-Aliran.

Charter 2000-Aliran is a citizens’ media initiative based on a press freedom manifesto endorsed by 39 civil sociey and media groups.

Public awareness

Contacted later, Mustafa (photo) said the monitoring team comprises about 20 volunteers nationwide and they expect more to join.

The volunteers are tasked to monitor the conduct of the mass media on a daily basis and post their observations on the webog for public feedback.

"All of us are on voluntary basis, we receive no funding," he said.

Mustafa, who is also a mass communication lecturer with a local university, said he and his colleagues were inspired to create the weblog due to the unfair news coverage during the 1999 general election.

"Some news were distorted (and there was) lack of coverage for certain political parties. We feel there is a need to highlight this," he said.

Public awareness

He stressed that the weblog could help raise public awareness and provide a platform for public scrutiny pertaining to election coverage.

Apart from monitoring news coverage, the weblog will also scrutinise political advertisements that serve the interests of Barisan Nasional (BN) parties and disparage others.

It will also be on guard for any attempt by the BN to use the media to create fear of potential social disorder should the opposition be voted into power.

Another area of focus, is the announcement of subsidies and funds for schools and other institutions during the campaign period, which Aliran said amounts to bribery.

Tuesday, February 17, 2004



1000 orang?



Keadilan dijangka berkubur tidak lama lagi
Photos by Aksi
Free Anwar Campaign Photos
Tahniah Skuad Piala Uber Malaysia!

Skuad negara yang dikepalai oleh pemenang pingat emas Sukan Sea Vietnam mencipta kejutan apabila berjaya menewaskan pasukan Hong Kong 3-2. Dengan kemenangan ini, harapan Malaysia untuk layak ke pusingan akhr Piala Uber yang akan diadakan di Indonesia Mei ini secara merit buat pertama kalinya semakin cerah.

Untuk pengetahuan, Malaysia pernah beraksi di pusingan akhir sebanyak empat kali dan kesemua penyertaan itu adalah disebabkan kita menjadi tuan rumah. Walaupun begitu, pasukan negara perlu meneruskan aksi menyakinkan dan jika boleh memastikan kemenangan ketika bertemu satu lagi pasukan pilihan, Jepun yang seterusnya akan memastikan tempat ke Jakarta.

Peningkatan aksi yang ditunjukkan oleh skuad wanita ini sememangnya sangat menggembirakan setelah sekian lama mereka tersisih. Petanda awal akan kebangkitan skuad wanita ini dapat dilihat semasa berlangsungnya Sukan Sea 2001 di KL dan diikuti dengan persembahan cemerlang di Sukan Komanwel Manchester.

Tahniah skuad wanita Malaysia!

Sunday, February 15, 2004

Yeah! Siti menang lagi!



Seperti yang sudah dijangka, Cik Siti kita telah mencipta kemenangan hatrick di Anugerah MTV Asia yang berlangsung gilang gemilang di Stadium tertutup Singapura malam semalam. Di Malaysia, siaran tertunda anugerah ini boleh ditonton di Astro melalui saluran Chanel 71.

Kemenangan kali ketiga berturut-turut Siti ini telah menyerlahkan kehebatan dan tahap populariti yang dimiliki beliau amatlah sukar ditandingi oleh mana-mana artis mainstream yang lain. Apa yang jelas, artis-artis lain hanya memiliki tempat kedua untuk direbut.

Populariti yang diraih oeh Misha Omar, Siti Sarah dan juga Waheeda gagal untuk menarik sokongan peminat dari pelbagai lapisan masyarakat untuk menyokong mereka secara jitu dan konsisten. Ketika ini, hanya Siti sahaja yang dirasakan memiliki kewibawaan dan karisma untuk mendapat sokongan yang mantap walaupun beliau pernah pada satu ketika dibenci oleh penyokong dan simpatisan parti pembangkang apabila beliau secara terbuka menyokong dan ingin menjadi antara teraju utama puteri UMNO.

Mujurlah beliau tidak meneruskan langkahnya itu walaupun mungkin beliau tetap penyokong parti pemerintah. Itu tidak menjadi masalah kerana ia adalah hak peribadi. Walau apapun, Cik Siti Nurhaliza ini tetap diminati dan digilai oleh segenap lapisan masyarakat, malah tidak menjadi rahsia lagi bahawa ramai penyokong-penyokong parti PAS juga merupakan peminat setia Cik Siti kita.

Berdamping dan bercerita panjang dengan kelompok peminat Melayu yang meminati dan mengikuti secara serius segala cerita tentang dunia hiburan arus perdana negara ini memperlihatkan terdapat dua kelompok utama yang bertentang pendapat. Satu pihak amat menggilai Siti dan satu pihak lagi membenci Siti, kelompok tengah tersangat kurang dan jika adapun, suaranya kurang didengari.

Apa yang merungsingkan dan kekadang membuatkan aku menyampah adalah hujah kebanyakan kelompok yang membenci Siti adalah kerana beliau tersangat popular dan terlalu banyak memenangi itu dan ini. Walaubagaimanapun aku tidaklah berasa terlalu hairan kerana aku mempunyai pandangan bahawa kelompok ini kurang memberi perhatian kepada aspek muzik yang ditonjolkan seseorang artis itu. Golongan ini lebih menitikberatkan isu-isu peribadi seseorang artis seperti yang selalu disiarkan di media hiburan tempatan.

Walaubagaimanapun, satu fakta menarik adalah kemenangan Siti Nurhaliza juga mencatatkan rekod di Anugerah MTV Asia ini iaitu menjadikan Malaysia adalah salah satu daripada tiga buah negara di mana pemenangnya dimenangi oleh artis yang sama selama tiga tahun berturut-turut. Negara lain adalah Singapura melalui Stefanie Sun dan Hong Kong melaui Sammi Cheng. Sama ada ia memberi indikasi yang baik atau buruk kepada industri hiburan di ketiga-tiga buah negara itu seharusnya dibahaskan oleh industri.

10 Favourite Music Artist Awards from Asia:

Favourite Artist Mainland China - Pu Shu
Favourite Artist Hong Kong - Sammi Cheng
Favourite Artist India - Abhijeet
Favourite Artist Indonesia - Audy
Favourite Artist Korea - BoA
Favourite Artist Malaysia - Siti Nurhaliza
Favourite Artist Philippines - Parokya Ni Edgar
Favourite Artist Singapore - Stefanie Sun
Favourite Artist Taiwan - A*Mei
Favourite Artist Thailand - "Bird" Thongchai McIntyre

International Music Awards:

Favourite Male Artist - Gareth Gates
Favourite Female Artist - Christina Aguilera
Favourite Pop Act - Blue
Favourite Rock Act- Linkin Park
Favourite Video - Linkin Park
Favourite Breakthrough Artist - t.A.T.u

The Asian Film Award - Michelle Yeoh
The Inspiration Award - Anita

I'm really like BoA!!! Her perfomance yesterday is very outstanding! I love you BoA! Btw, still waiting for another Korean singer such as Jang Nara, Lee Jung Hyun, Lena Park and Lee Soo Young to perform in MTV Asia Awards!!

BoA And Linkin Park Bag Two Cupids Each At The MTV Asia Awards 2004
Anita Mui honoured at MTV Asia Awards
Siti Nurhaliza menang anugerah Artis Pilihan Malaysia MTV Asia
Fatih Akin’s "Head On" Wins Golden Bear

Golden Bear for best film: ``Head-On'' (Gegen die Wand) by Fatih Akin (Germany/Turkey)
Jury Grand Priz Silver Bear: ``Lost Embrace'' (El Abrazo Partido) by Daniel Burman (Argentina)
Silver Bear for best actress: jointly to Charlize Theron in ``Monster'' (US) and Catalina Sandino Moreno in ``Maria Full of Grace'' (US/Colombia)
Silver Bear for best actor: Daniel Hendler in ``Lost Embrace'' (Argentina)
Silver Bear for best director: Kim Ki-Duk for ``Samaritan Girl'' (Samaria) from South Korea
Silver Bear for outstanding artistic contribution: the entire ensemble of ``Daybreak'' (Om Jag Vaender Mig Om) from Sweden
Silver Bear for best film music: Banda Osiris for the music in ``First Love'' (Primo Amore) from Italy
Blue Angel Award for best European film: ``Daybreak'' (Sweden)
Alfred Bauer Prize for work of particular innovation: ``Maria Full of Grace'' (US/Colombia)
Ecumenical Jury prize: ``Ae Fond Kiss'' by Ken Loach (Britain)
Peace Film Award: ``Witness'' (Svjedoci) by Vinko Bresan (Croatia)
TEDDY for best film with gay or lesbian context: ``Wild Side'' by Sebastian Lifshitz (France)
International Films Critics Association award for best film in competition: ``Head-on'' by Fatih Akin (Germany/Turkey)
Panorama Audience Award: ``Addicted to Acting'' (Die Spielwuetigen) by Andrea Veiel (Germany)
Prize of the Guild of German art house cinemas: ``Ae Fond Kiss'' by Ken Loach (Britain)

Berlin International Film Festival official website

Friday, February 13, 2004

Reopen previous probes


Source, Malaysiakini
Food Not Bombs Kuala Lumpur

Our Mission - Basic Goals & Principles

The mission of Food Not Bombs (FNB) is two-fold. Food Not Bombs serves free meals to the homeless community in order to raise public awareness to the reality of the situation, the hunger problem that is involved, and the unnecessary existence of hunger.

As you may or may not know, we recycle food by obtaining and serving mostly the food that would normally be thrown away. We try to educate people (about poverty, hunger and our massive wastage) and at the same time recycle food, and at the same time feed hungry people!

Our Principles
We base ourselves upon the principles of non-violence, equality, and do-it-yourself methods.

You can see these fundamentals in our operation: our passive form of protest, our non-authoritarian group, our community building and our method of raising money and obtaining food.

How We Work
Our group is a small number of people, working D.I.Y. (Do-It-Yourself); working together to help others, to create community and create change. We are all volunteers, and meet once weekly for meetings and once weekly for our food share.

For our food share, we collect food from various wet markets (recycle sponsors), willing to donate to us their ‘waste’ which we then sort through and salvage. Every week, we cook this food and use it to prepare a healthy meal to eat on the street.

Sometimes food cannot be obtained by donation, or by recycle sponsors, and thus, we must buy our food for that week. In this case, we use money generated through fundraiser events, art sales, and our reselling of 2nd hand, redesigned t-shirts.

We also distribute fliers to share details of our meal days and times, as well as literature such as this one, that is made available at fundraiser events and our food share.

Contact Us
You can email us at free_foods@yahoo.com for any further information.

Include your name and contact number so we can respond to your inquiry.


FAQs

The Name
Protests the large amount of money spent on war machinery (and also mega-projects, especially here in Malaysia) when ordinary, innocent people are denied access to basic needs.

Food Recycling
Most of our food is recycled from supermarket "waste". It is considered un-sellable due to cosmetic blemishes, yet remains perfectly edible. We know that scarcity is a lie, there is more than enough food for everyone and that poor food distribution is the problem.

Veggie Power
We are not meat prejudiced, if we are given fresh meat as a donation, or can asure the safety of the food. Because of the use of recycled food, guaranteeing the safety of meat products is impossible and controlling the quality of plant produce is much easier. Vegetarian food is very healthy and full of nutritious vitamins, and minerals.

Acknowledgement
We claim solidarity in the fight against poverty. All people deserve equal respect regardless of their social and/or economic situation. The existence of poverty must be addressed publicly and not hidden out of sight.

Non-Violence
Poverty, hunger, and homelessness are violence caused by skewed government priorities.

We protest resources spent on war and armament when people are denied their basic rights to food and shelter.

We use serving and sharing food, literature distribution and fun to share our message and form our protest.

Consensus
FNB has no structure or hierarchy; all volunteers are equal members with equal say. A conscious effort is made to include everyone in decision making.

Non-profit
Little or no money is involved; food is donated. No paid staff - we are all volunteers.

Politics
Members of Food Not Bombs have a diverse range of political ideologies and backgrounds, and independent thinking is encouraged. There are no authorities in the group. Everyone is equal! Volunteers can become involved for any reason; we just all want to help!

The Food Not Bombs Story
Food Not Bombs Malaysia E-group
Seven Steps to Organizing a Local Food Not Bombs

Wednesday, February 11, 2004

EU Presidency Declaration on Anwar Ibrahim
European Union 10 February 2004




The European Union, which has continued to monitor closely the case, notes the decision of the Malaysian Court of Appeal not to reconsider its upholding of the conviction and sentence on 8th August 2000 against Datuk Seri Anwar Ibrahim, the former Deputy Prime Minister of Malaysia. The European Union also notes the Court of Appeal's decision to deny a request for bail.

The European Union recalls its earlier statements voicing deep concern about the fairness of the legal proceedings and expresses its disappointment at the Court of Appeal's decisions.

The Acceding Countries Cyprus, the Czech Republic, Estonia, Hungary, Latvia, Lithuania, Malta, Poland, the Slovak Republic and Slovenia, the Candidate Countries Bulgaria and Romania, the Countries of the Stabilisation and Association Process and potential candidates Albania, Bosnia and Herzegovina, Croatia, the Former Yugoslav Republic of Macedonia, Serbia and Montenegro, and the EFTA countries Iceland, Liechtenstein and Norway, members of the European Economic Area, align themselves with this declaration.
Eric Chia dibenar ikat jamin, mengapa tidak Anwar?

Bekas Pengarah Urusan Perwaja Steel Sdn Bhd, Tan Sri Eric Chia Eng Hock telah dihadapkan ke Mahkamah Sesyen di sini atas tuduhan melakukan pecah amanah jenayah ke atas dana syarikat tersebut membabitkan wang berjumlah RM76.4 juta.Dan beliau telah dibenarkan untuk diikat jamin M2 juta selepas beliau tidak mengaku bersalah atas dakwaan tersebut.

Tidak dapat dinafikan, hak untuk diikat jamin adalah hak beliau. Namun di sini timbul persoalan bagaimana tertuduh yang menghadapi dakwaan pecah amanah wang yang sangat banyak itu dibenar untuk ikat jamin sedangkan Anwar tidak pula mendapat hak yang sama. Keliru, resah, marah dan segala macam perasaan wujud di tika ini. Mungkin inilah semangat Malaysia boleh!

Kesediaan Pak Lah untuk melakukan politicall will ini harus dipuji dan diharap Pak Lah juga dapat melakukan tindakan yang sama di dalam kes Anwar.
Komuniti Seni Jalan Telawi (KSJT)

KSJT, yang menganjurkan Acara Baca Puisi Keliling (APUKe) sejak awal tahun 2003 terdiri daripada kalangan karyawan muda yang selalu berkumpul di Jalan Telawi. Mereka membaca sajak, menulis rencana dan lain-lain kegiatan penulisan. Berkumpul sejak akhir tahun lalu, juga menjadi kelompok awal mendirikan majalah SIASAH.

MATLAMAT APUKe – Membuka ruang kebebasan ekspresi yang sebenar. Tidak terkongkong kepada birokrasi atau mana-mana ideology serta fahaman politik.

Didokong oleh Sastrawan Negara, Datuk A. Samad Said, penulis Fathi Aris Omar (Malaysiakini.com) Hishamuddin Rais, Hasmi Hashim, Tengku Elida Bustamam (bekas persionaliti TV3), penulis muda Rahmat Haron dan ramai lagi pengiat-pengiat muda.

Selain daripada menganjurkan APUKe, KSJT juga bekerjasama dengan sekretariat penulis muda Persatuan Penulis Nasional (PENA) untuk diskusi bulanan (setiap Sabtu minggu ketiga) di Rumah PENA, belakang retoran Tupai-Tupai, berdekatan dengan Dewan Bahasa & Pustaka.

Dan mulai bulan Februari ini, KSJT dengan kerjasama IKD akan menganjurkan pelbagai aktiviti yang mencerahkan di Studio Kurusatre , 48 Jalan Telawi, Bangsar (Atas Pejabat POS Bangsar), kesemua program bermula pukul 8.30 malam.

1) Kelas falsafah – Oleh Khalid Jaafar
(setiap rabu kelas bermula pada 11 Februari 20040


Kelas ini akan menjelaskan beberapa karya asal oleh ahli falsafah daripada pelbagai bidang dan bangsa

2) Kelas Pencerahan – Oleh Fathi dan Penceramah Jemputan
(setiap sabtu * kelas Pertama 8 Februari 2004 (Ahad) – 5.00 ptg)


Kelas ini akan memberikan gambaran awal proses pencerahan di Eropah serta beberapa perkara penting yang menjadi
asas proses pencerahan di Malaysia.

3) Diskusi Bulanan [ Randai Telawi] – Khasi Buat Perogol Hukuman Lapok
(Tarikh – 20 Februari 2004 – Jumaat)


Diskusi bulanan ini akan menjemput beberapa tokoh tua dan muda untuk memberikan pandangan mereka tentang
topik yang dipilih. Bagi Februari topik perbincangan ialah isu rogol yang menjadi perbualan hangat dewasa ini.

4) Diskusi Filem [Bedah Filem] - Bersama U Wei Shari
(Tarikh – 27 Februari 2004 – Jumaat )


Bedah Filem akan diadakan sekali sebulan denagn menjemput seorang panel untuk membahaskan dari sudut seni
dan konsep yang terdapat dalam filem yang ditayangkan. Bagi bedah filem akan menayangkan 2 jenis filem iaitu filem
klasik dan kotemporari. Bagi Februari bedah filem akan bersama U Wei Shari.

Maklumat lanjut hubungi:
Amir Sari
Telefon: 03 2283 2858/ 019 391 7406
E mail: Amirsari2003@yahoo.com
Pementasan teater Election Day akhirnya dibenarkan

Menurut berita terkini seperti yang dilaporkan di Malaysiakini, pihak DBKL akhirnya telah membenarkan teater ini dipentaskan mengikut jadual dan perancangan asal. Cuma yang mengecewakan adalah kebenaran ini diberikan setelah dilakukan beberapa pindaan skrip ke atas versi skrip yang asal. Bodoh punya DBKL! dah lah tak dipilih secara langsung oleh rakyat KL, banyak pulak hal dia.

Episod terkini seharusnya membangkitkan kesedaran dan semangat di kalangan penggiat seni di negara ini untuk terus bangun dan melipatgandakan usaha mempertahankan hak dan kebebasan berekspresi seperti yang terjamin di dalam Perlembagaan Persekutuan.

Walau apapun, aku menyakini bahawa situasi ini tidak akan dapat menggerakkan kesedaran rakyat terbanyak tentang isu-isu penting yang berlegar di sekitarnya. Kesedaran hanya akan timbul jikalau pihak berwajib tidak membenarkan konsert Akademi Fantasia, konsert Siti Nurhaliza atau persembahan Nana dan Achik di pusat-pusat membeli belah dijalankan kerana didakwa tidak mematuhi beberapa syarat yang telah ditetapkan.
Kuliah Cinta: Kebodohan Tiada Penghujungnya! oleh sultanmuzaffar


Mak punya wig lagik cluust dari wig fag hag kau nyah! Jangan marrah!

Saya memberikan harapan yang tinggi kepada industri filem Melayu pada tahun ini setelah menonton Trauma arahan Aziz M. Osman. Setelah menonton Kuliah Cinta harapan tersebut hancur namun belum serik untuk terus memberi sokongan kepada pembikin-pembikin filem Melayu.

Sinopsis

Kisah cinta mereka memang mudah untuk menjadi bahan sensasi. Bintang Popular di Berita Minggu melabelkan filem ini bukan kisah cinta monyet. Tetapi melihatkan adegan yang dipaparkan kehidupan mereka tidak ubah seperti haiwan dalam zoo. Filem yang ideanya diciplak dari filem Kuch Kuch Hota Hei dan Ali Setan ini tiada banyak bezanya dan tiada peningkatan dari segi arahan mahu pun lakonan.

Kisahnya mudah sahaja, kisah kehidupan pelajar universiti tempatan bila mana seorang lelaki yang tidak tahu meluahkan perasaan sebenarnya. Berkawan baik, mesra, gurau senda, minat, perasan, cemburu, kecewa, lari naik keretapi dan akhirnya bernikah di masjid. Bukankah modal ini lebih sesuai dijadikan drama televisyen daripada dibawa ke layar perak ?

Arahan

Kononnya filem ini merupakan sebuah komedi muzikal. Setahu saya, filem yang layak dikategorikan sebagai filem komedi muzikal adalah seperti Little Shop of Horror dan Chicago sekadar menyebut beberapa nama. Setiap 15 minit akan ada pelakon yang menyanyi ala Broadway. Tapi sayangnya filem ini hanya sekadar menggunakan genre itu sahaja tetapi tidak merealisirkannya di layar. Arahan beliau tidak banyak berubah ke arah kebaikan. Pengarah sewajarnya meneliti setiap aspek dalam arahannya untuk membuat sebuah filem yang berkualiti dan memberikan mesej-mesej yang baik kepada penonton. Ini tidak diperoleh dalam Kuliah Cinta. Watak tidak dikembangkan sebaiknya. Setengah watak tidak konsisten perwatakan mereka.

Ceritanya banyak diadaptasi dari filem Kuch Kuch Hota Hei dan Ali Setan. Antara adegan yang diciplak adalah adegan main "one two som", kemalangan yang dibuat-buat, wujudnya perwatakan orang Kedah serta cabar-mencabar dan lain-lain. Filem ini dihidangkan dengan terlalu banyak sub-plot pada satu masa dan suntingan yang tidak dibuat dengan baik telah mencacatkan filem ini.

Lakonan

Lakonan dari Erra sebagai Jojo jelas tidak dihayati sepenuhnya dengan baik. Lakonan dari Yusry juga jelas menunjukkan tiada keserasian beliau dengan Erra. Lebih mengecewakan lakonan Apek dan Yassin yang tidak menggambarkan realiti kampus. Lakonan mereka sekadar mewujudkan elemen humor dan slapstik. Watak Zahida Rafik sebagai seorang pelajar "terencat akal" yang berjaya melanjutkan pelajaran ke universiti sesuatu yang boleh menjadi bahan lawak apabila saya tonton. Watak beliau dengan make-up tebal, spek tebal, rambut serabai serta ketawa macam kuda jelas tidak mencerminkan seorang pelajar universiti yang tahap intelektual mereka dipandang tinggi. Watak nerd jika mahu diwujudkan sekalipun biarlah berlaku adil terhadap watak tersebut. Bukan membodohkannya di atas layar. Karisma keseluruhan pelakon agak goyah dan mereka kelihatan tidak berjaya membawakan watak masing-masing. Watak mereka tidak dikembangkan dengan baik dan tidak diberi penerangan yang cukup akan satu-satu watak tersebut.

Realiti Yang Busuk

Adakah ini realiti pelajar IPTA? Saya yakin bukan begini, tetapi nampaknya Prof selaku pengarah seperti sengaja ingin memburuk-burukkan imej mereka. Realiti kehidupan pelajar di Universiti tidak digambarkan dengan sejujurnya. Secara jujur saya merasakan realiti kehidupan pelajar menengah di dalam Ada Apa Dengan Cinta dan Adik Manja telah dipaparkan secara lebih matang berbanding kehidupan pelajar universiti dalam Kuliah Cinta. Mereka sebagai pelajar universiti jelas nampak tidak matang. Watak dalam Kuliah Cinta telah dibadutkan oleh Pengarah.

Saya sendiri tidak faham kenapa terlalu banyak watak Tomboy dalam filem Melayu dan kemudiannya akan cuba di "femininkan" oleh watak lelaki tersebut (contoh yang terkini, Janji Diana dan Laila Isabella). Kenapa perlu ditundukkan watak wanita yang tegas dan kuat? Kenapa di dalam filem-filem barat, ada kecondongan untuk watak wanita tegas dan kuat (contohnya, Cold Mountain dan Mona Lisa Smile) tetapi di sini, watak wanita perlu ditundukkan lelaki, barulah boleh diterima.

Suatu perkara yang menarik tetapi telah ditiadakan di dalam memaparkan realiti kehidupan di Universiti adalah imej-imej universiti yang dipenuhi dengan pelajar wanita bertudung tetapi telah tidak digambarkan di dalam filem ini. Watak wanita bertudung hanya muncul dalam filem-filem Amir Muhammad (Lips to Lips dan The Big Durian - filem pertama Malaysia yang dipertandingkan di Sundance Film Festival).

Lebih memualkan apabila rujukan pelajar universiti tersebut di dalam dialog filem turut tersebut menyebut nama Prof Razak Mohaideen. Saya suka menggunakan istilah egomaniac untuk mentafsirkan tentang adegan tersebut. Saya akur sekiranya mereka menggunakan nama P.Ramlee, Akira Kurosawa dan Satyajit Ray sebagai bahan rujukan tetapi menggunakan nama sendiri di dalam filem arahan sendiri amat memualkan. Belum ada pengarah yang mengarah filem dan kemudian dalam masa yang sama memuji diri sendiri. Saya buat filem kemudian saya ulas filem saya sendiri. Logik ?

Prof. secara tidak langsung telah menidakkan intelektualtualiti penonton. Mengapa naratif filem Melayu perlu "bangang dan membangangkan"(sekadar meminjam istilah Faisal Tehrani)? Mengapa pembikin-pembikin filem sebegini boleh membuat andaian bahawa tahap pemikiran penonton masih cetek, lantas boleh diperkotak-katikkan mereka. Mereka (penonton) akan menilai setiap adegan dan filem pada mereka bukan sekadar hiburan tetapi yang mampu mendidik nilai-nilai yang baik kepada mereka.

Adegan akhir filem ini memperlihatkan adegan pernikahan Johana dan Faramy di sebuah masjid. Tetapi di mana logiknya adegan sebuah pernikahan tersebut tanpa kehadiran keluarga pihak perempuan. Johana bernikah tanpa wali yang ada hanyalah rakan-rakan beliau. Adakah Johana dan Faramy ditangkap khalwat dan pernikahan mereka hanya berwalikan hakim? Adakah ini yang mahu disampaikan oleh Prof melalui naratifnya? Saya sebagai orang Islam sedikit sebanyak tahu hukum agama Islam itu sendiri dan beliau sebagai cendekiawan filem bergelar Prof. dan beragama Islam sewajarnya meneliti perkara yang sebenarnya tidak kecil kesannya kepada para penonton.

Adakah ini yang penonton mahu? Ya! Filem ini Box Office di pasaran. Tetapi penonton yang bagaimana? Penonton yang ada otak untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk atau penonton yang ada otak tetapi tidak menggunakannya. Saya ada terdengar di dalam ERA, seorang pemanggil memberikan pendapatnya mengenai filem ini. Beliau memberikan 4.9/5 bintang kepada filem ini. Jika filem ini mendapat 4.9 bintang, bagaimana pula dengan Lord Of The Ring? 10/5 bintang ??

Kenapa filem ini tidak relevan pada masa sekarang? Filem sebegini hanya sesuai ditonton pada zaman sekarang sekiranya mesej yang ingin ditampilkan relevan pada masa kini. Kisah-kisah cinta mual, cemburu seakan sudah tidak relevan pada masa kini. Ali Setan dan Adik Manja jauh lebih baik dan matang dari Kuliah Cinta.

Namun demikian, beberapa adegan seperti menggunting rambut rakan pelajar, tiru-meniru antara pelajar, kegiatan ko-kurikulum, ragging dan kerisauan pelajar tahun akhir mendapatkan kekasih dipaparkan dengan baik. Jujur tetapi negatif.

Saya dapati filem-filem Prof. ini tidak menampakkan kemajuan, sedangkan saya sendiri telah melihat sedikit perubahan dalam filem-filem Yusof Haslam dan Aziz M Osman. Prof sedikitpun tidak mahu menunjukkan sebarang kesungguhan dalam membuat filem. Saya tidak merayu kepada beliau untuk membikin filem seni yang keluar masuk festival filem antarabangsa, hanya sekadar mahu menonton sebuah filem dari beliau yang tidak mengaibkan daya intelek saya sebagai penonton yang sanggup mengeluarkan wang untuk menonton. Perkara sekecil-kecil logik perlu dijaga dan diperhatikan. Sekiranya filem sebegini telah membuat kutipan yang tinggi di pasaran, secara tidak langsung memberi gambaran negatif kepada filem Melayu dan pembikin-pembikin filem generasi muda (anak-anak murid didikan beliau di UiTM) sudah pasti akan meneruskan tradisi yang telah dididik kepada mereka. Saya sebagai penonton hanya mahukan sebuah filem yang berkualiti dan pada masa yang sama, menghiburkan.

Filem ini hampir pasti akan ditayangkan sempena Hari Raya akan datang. Nasihat saya seboleh-bolehnya agar kemuliaan bulan Syawal tidak dikotorkan dengan najis sebusuk ini.

Rating: Kebodohan Tiada Penghujungnya!

Tuesday, February 10, 2004

Apa itu Artis Pro Activ?



The following are the first two pages from THE OFFICIAL APA APA DOSSIER, to help you understand the history behind the formation of ARTIS PRO ACTIV in 1998

A non-political group of people from the arts community united in the belief that questions must always be asked

WE BELIEVE
That it is time for the arts community to come together again to take a more concerted, pro-active role in developing a more open society for our country, without fear or favour

VIA
performances, publications, exhibitions, screenings, workshops, ad campaigns, and other events

TO PROMOTE
freedom of expression and association for people in the arts community

TO ENCOURAGE
the free flow of ideas and information

TO ALLOW
only the immediate audience to make the judgement call of approving or disapproving the work of an artist/artists and

TO RECOGNISE
that members of the Malaysian public have the intelligence to make up their own minds and should be encouraged to do so

Our Inaugural Festival Theme

artis.pro.activ presents

apa apa

a festival of the arts
October 27 - November 15, 1998

The Right To Ask Questions.
The Right To Seek Answers.

In recent weeks, artis.pro.activ (APA) has been very concerned with the diminishing freedom of expression, freedom to question and freedom of association.

On October 27th, APA launches APA APA, an arts festival with a theme that revolves around the right to ask questions, and the right to seek answers.

As artists, and art appreciators, we want to come together in a sense of fellowship through this associoation and event.

It is a step towards building a sense of community among likeminded people who value the artistic vision and the spirit of innovation.

In addition to that, we feel that it will be most advantageous to our wellbeing as artists and innovators to express ourselves collectively through artistic/creative intervention on issues we are concerned about.

The members of artis.pro.activ

THE OFFICIAL APA APA DOSSIER comprised the above two pages as well as (previously unpublished) contributions from:
A AHMAD
ANTARES / KIT LEEE
JO KUKATHAS
BERNICE CHAULY
DINA ZAMAN
FAISAL TEHRANI
FUDZAIL
KEE THUAN CHYE
REHMAN RASHID
UTHAYA SANKAR SB
Allahyarham ZAIN MAHMOOD
SABRI ZAIN
(in order of content line-up)
The dossier was sold to help raise funds.

I hope the above helps newcomers understand a little better this thing called APA

ARTIS PRO ACTIV
E-MEDIA MODERATOR/FACILITATOR

Joining them, click here
ArtisProActiv letter to DBKL

Datuk Bandar
Y.Bhg. Kol. Datuk Mohmad b Mohd Taufek

9th February 2004

Honorable Datuk,

Censorship by DBKL of `Election Day'

It has come to the attention of ArtisProActiv, a non-politically aligned group of people from the arts community, that the script for 'Election Day', a play to be produced by Five Arts Centre scheduled for 12-29 February 2004, has been rejected by the DBKL. We understand that Five Arts Centre has since submitted a revised script to the DBKL for reconsideration.

On investigation as to why the script was rejected, we were informed of the following:

• That DBKL did not state that anything was specifically 'wrong' with the script

• That words like - Barisan Nasional, Barisan Alternatif (in fact names of all political parties), individuals' names like Dr Mahathir, Sivarasa Rasiah, Dr Wan Azizah etc, swear words, names of places like Ampang Jaya, Guardian Pharmacy etc, were asked to be taken out. We find that the removal of these words ludicrous as most of them appear in the mass media on a daily basis and therefore should not be subjected to censorship.

Thus, ArtisProActiv is concerned for the following reasons:

• We strongly object to the script vetting committee set up by DBKL. We believe that this body is counter-productive to the cultural progress of Malaysia.

• 'Election Day,' the play by Huzir Sulaiman, is a published work that is available to the public.

• The revision of a published work tampers with the creative rights of the writer.

• The play 'Election Day' was issued a license for performance by the DBKL in December 1999, almost immediately after the 1999 Malaysian General Elections. The script's rejection now, 5 years later, is an inconsistent and retrogressive step by the DBKL.
• If the performance of this play is not in violation of any laws of the land, then we feel DBKL should not play the role of moral guardians and tell the Malaysian public what they are allowed to see.

• We believe that DBKL recognizes that members of the Malaysian public have the intelligence to make up their own minds and should be encouraged to do so.

• We believe that free flow of ideas and information should be encouraged in this society, in line with the spirit of Article 10 of the Malaysian Constitution, and echoed in the 19th Article of the Universal Declarations of Human Rights.

ArtiProActiv therefore calls upon DBKL to cease this process of vetting of scripts, which is an unacceptable form of censorship. We also ask that the DBKL review its position with regard to the script for "Election Day" immediately.

ArtisProActiv will be monitoring the developments of this situation with great interest. It is our hope that this situation between DBKL and Five Arts Centre will result in a progressive outcome, in line with the vision of the Honorable Prime Minister of Malaysia, Datuk Seri Abdullah bin Ahmad Badawi, who has called for a 'mindset change among Malaysians, moving away from the physical landmarks (the "hardware") of development to the "software" part of development with emphasis on human capital' (The Star, 1st Feb 2004).

Sincerely,

Fahmi Fadzil
Director Designate, ArtisProActiv

ArtisProActiv pro tem committee members:
Ghafir Akbar
Anne James
Tan Sei Hon
Vernon Adrian Emuang
Kathy Rowland

Sila e-mel kenyataan ini kepada pihak-pihak yang berkenaan

Malaysia bans 'Volkswagen' play

Saturday, February 07, 2004

Malaysia Boleh!!

KL City Hall chops another play- Malaysiakini
Yoon Szu-Mae
11:55am Fri Feb 6th, 2004

Kuala Lumpur City Hall has rejected the script of a play by Five Arts Centre, but the theatre company says it has appealed, in the form of a revised script to the city's licensing evaluation committee.

"They have allowed us to appeal, and we've sent in a revised script (on Wednesday)," said Five Arts Centre publicity manager Mark Teh.

Written by Huzir Sulaiman and directed by Krishen Jit, the play "Election Day" was submitted to the committee for its approval to stage at Actor's Studio Bangsar on Feb 12.

Strangely however, the rejected play had in fact already been staged in 1999, nine days after the general election. The latest application was merely for a repeat performance.

In the dark

According to Teh, this consideration did not seem to affect the licensing evaluation committee's finding that the script contravened six of DBKL's eight guidelines for staged productions.

"The verbal rejection was given on Tuesday (Jan 27), while the rejection letter only arrived on Saturday (Jan 31)," he said. The script was sent in for consideration in December last year.

Not only did City Hall's answer come in late, said Teh, the letter also failed to specify which six guidelines the play offended, leaving them uncertain of what the committee had found to be offensive.

When Five Arts had a meeting with City Hall deputy director-general Salleh Yusup and head of licensing Saringat Adnan on Thursday, they were only informed that the script was "not appropriate", Teh said.

Five Arts was therefore only able to make changes based on the script City Hall had returned, where the names of individuals, organisations, and certain words were highlighted with a marker, he added.

Names offensive?

In any case, Teh said, the script was not expected to be censored, especially given the fact that it is publicly available in the form of a book of plays written by Huzir and published by Silverfish Books entitled `8 Plays'.

"The same individuals and organisations were named (in the published script), such as `Guardian Pharmacy', `Anwar Ibrahim', `Sivarasa Rasiah', `Shahrizat Jalil', as well as terms like `Hidup Mahathir'," said Teh.

"I don't know understand why a term such as `Guardian Pharmacy' is considered objectionable."

City Hall officials said they were unable to comment on the matter as all public statements must come from Mayor Mohmad Shaid Mohd Taufek, who is currently out of town.

An officer could only confirm that the script for `Election Day' had been resubmitted to City Hall for reconsideration.

In the aftermath of the controversy over political satire `The 2nd First Annual Bolehwood Awards' - a much-criticised ban was overturned by Mohmad Shaid and then denied to have existed - City Hall created new guidelines for awarding performance licenses.

The new codes insist that artistes "do not ridicule, put to contempt, disrepute or shame heads of states", and bars performances from impinging "on policy and administration of (the) nation", among others.

"Election Day" is the first Five Arts production to be evaluated under the new guidelines and the new evaluation committee consisting of City Hall representatives and three theatre practitioners.
Cik Siti lindungan bulan - Fathi Aris Omar

Kuseru saja Dia
Sehingga datang juga
Kami pun bermuka-muka
Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada
Segala daya memadamkannya
Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda
Ini ruang
Gelanggang kami berperang
Binasa-membinasa
Satu menista lain gila


(Di Mesjid karya Chairil Anwar, Mei 1943)

PAS, sebuah parti fundamentalis agama, ada masalah dan tidak jujur. Di sini ‘sindrom PAS’ bermula. Antara isunya, parti Islam ini tidak berterus-terang tentang bagaimana model atau format budaya yang bakal terbentur di bawah pentadbirannya. PAS tidak menjelaskan sikapnya dalam menangani ‘gejala Siti Nurhaliza’.

Sebagai seorang penulis yang pernah terdidik dalam program dakwah fundamentalisme, saya boleh mengagak jawapan PAS dalam hal ini. Malah, sesiapa sahaja yang cermat menganalisis politik, boleh menghidunya.

Di Kelantan, wayang kulit diharamkan lebih 10 tahun tanpa jawapan intelektual yang konkrit, tiba-tiba dibenarkan kembali selepas menerima format baru yang dicadangkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka.

Subteksnya, kenapa PAS juga berjiwa seperti Umno (dan Barisan Nasional), menggubal dasar-dasar awam tanpa perundingan dan gagal menggunakan akal yang tajam lagi bernas? Kenapa semua orang politik ghairah memperkudakan kuasa atau perundangan tanpa mengajak kita semua berhujah, berdebat dan menggunakan akal rasional-kritis terlebih dahulu?

Di Terengganu, bergema suara untuk memperkenalkan ‘kod etika berpakaian’, selain format beratur berlainan jantina di kaunter (meniru peraturan di Kelantan) dan kaedah baru menonton filem di pawagam.

Musabaqah al-Quran tidak boleh disertai wanita, kononnya atas alasan suara. Calon wanita (muslimat) akan dikaji untuk diperbolehkan setelah terdapat desakan tertinggi dari dalam parti sendiri, maksudnya disuarakan oleh pemimpin kanan Dewan Muslimat di muktamar tahunan PAS.

Persoalan pertama saya, kenapa PAS tidak nyatakan secara terbuka bahawa ia hendak ‘mengharamkan Siti Nurhaliza’? Siti harus memakai tudung dan berpakaian menutup aurat, suaranya (dan boleh jadi mukanya juga) boleh membawa ‘fitnah’, jika PAS menguasai negara ini. Siti harus menjadi Waheeda, dan Anuar Zain pula mesti menyarung kopiah Raihan?

Wacana bebas

Orang boleh berhujah, ini persoalan keutamaan memilih isu atau kebijaksanaan berpolitik. Sebagai aktivis media independen yang turut berkempen dalam senario politik yang sangat mengongkong, saya faham hujah ini.

Tetapi tersirat di sebaliknya, lambat laun parti Islam akan menggunakan naluri ‘sindrom PAS’ untuk menghapuskan ‘gejala Siti Nurhaliza’, cuma persoalan mencari strategi terbaik, masa yang sesuai dan kaedah yang (harap-harap) tidak menyebabkan kemarahan orang ramai.

Sekali lagi, subteksnya, kenapa semua orang politik cenderung mengongkong, gagal membuka wacana pembebasan, sedangkan persoalan rakyat hari ini, kami sudah cukup rimas dengan belenggu Umno-BN yang melumpuhkan dan merugikan bangsa serta negara.

PAS tidak bersyahwat mendepani isu-isu kebebasan, hak asasi dan budaya demokratik. Malah, ada bayangan ketakutan, untuk benar-benar tekal dalam hal ini. Ia lebih ghairah menunjuk-nunjukkan batinnya yang sudah dijangkiti ‘sindrom PAS’, penyakit suka mengawal orang ramai. Ulama kita, seluruh ummah sejak merebak wabak taklidisme, suka menutup minda, tidak tahan dikritik.

"The effects of despotism have become second nature to us. We are all individually dictator-like in our own ways, and this unfortunate condition is evident in all strata and spheres of our society," tulis presiden Iran Muhammad Khatami dalam Islam, Modernity and Development ketika membicarakan krisis pemikiran dan kebebasan masyarakatnya yang turut mewarisi kekangan bertubi-tubi sejak zaman Islam, raja-raja termasuk Shah Iran.

Gejala mengekang sedang membiak krisis politik di Iran, satu lagi model pentadbiran bercirikan agama, pertembungan konservatisme ulama dengan golongan reformasi yang mendesak kebebasan, demokrasi dan ‘peraturan permainan yang adil’. Sejak pertengahan 1990-an, Khatami sendiri bergelut untuk menjadi ‘pihak tengah’ di antara dua aliran ini di Iran sehingga dituduh seorang ahli teologi yang cuba menafsir agama lebih rasional dan serasi dengan demokrasi, tetapi berjaya meraikan kebekuan kelompok ulama konservatif.

Di negara kita, sindrom ini bukan persoalan baru. Sindrom ini warisan dasar-dasar mengekang Umno-BN, dasar penjajahan Inggeris dan amalan konsevatisme-feudalisme Melayu sejak beratus-ratus tahun.

Gejala diktator

Tidak dilupakan, warisan kesultanan Islam yang autokratik dan wabak taklidisme ummah. Ia semacam social conditioning yang tidak disedari, tetapi berulang-ulang dihayati, proses pembudayaan halus serta perlahan-lahan dalam masyarakat.

Ia berjaya membentuk jiwa (psyche) atau akal bawah sedar sehingga melimpah ke alam mimpi atau resah batin, tanpa dapat lagi diselami secara sepenuhnya rasional – jika kita gagal membongkar sejarah dan mengenali batu-batu tanda kesesatannya. Mungkin istilah ‘sindrom kebergantungan’ (dependency syndrome) atau ‘Stockholm syndrome’ termasuk dalam gejala penyakit yang sama.

PAS tidak ada ghairah, naluri atau batin tajdid dalam persoalan ini. Malah, saya tidak fikir PAS benar-benar sedar latar halus serta bermacam-macam kongkongan masyarakat kita. PAS hanya ‘perasan’ ia telah menyedarinya. Dengan semangat baru tetapi dengan landasan jiwa bangsa yang terkekang sekian lama, justeru itu, agama senang sekali dijadikan alat kongkongan pula.

Malah, parti Islam ini hanya melanjutkan penyakit yang sudah lama kita deritai – yang telah menetaskan makhluk seperti Tun Dr Mahathir Mohamad, gejala kediktatorannya dan budaya politik kekangan.

Rakyat, termasuk pembangkangnya, betat memahami selok-belok belitan politik bekas perdana menteri. Cendekiawan pula, atau kaum terpelajarnya, masih lagi terpinga-pinga, tenggelam punca sampai sekarang.

Penyakit inilah yang menyebabkan PAS sendiri, dan rakan-rakan aktivis badan bukan kerajaan (NGO) atau pengkritik kerajaan, gagal menyebarkan sudut pandang alternatif kepada masyarakat.

PAS, dan boleh dikatakan Barisan Alternatif umumnya, tidak cuba menyelesaikan permasalahan ini. Wacana tentang hak asasi atau kebebasan individu tidak pernah mendalam, tidak pernah serius dipecahkan. Ia tidak ubah sekadar ‘janji manis’ semata-mata.

Alternatif pembebasan

Kebebasan akhbar tidak pernah diangkat sebagai wacana tunjang dalam isu hak kebebasan bersuara. Cuma Anwar Ibrahim agak tekal mengulang-ulang idealisme ini. Sepanjang lima tahun mutakhir, sejak krisis 1998, isu kebebasan hanya untuk kepentingan BA sendiri. Apabila diri tersekat, mereka menjerit tetapi landasan adil untuk semua rakyat tidak diperjelaskan, budayanya tidak dihayati di dalam dan luar parti.

Memang benar ada (malah selalu) ucapan, kenyataan akhbar atau manifesto yang kononnya untuk ‘menyelesaikan’ atau ‘memberi alternatif pembebasan’ daripada kekangan ini. Tetapi pembudayaan bukannya teks di atas kertas atau getaran lidah di lelangit; budaya atau nilai adalah persoalan rangka fikir, naluri asas dan penghayatan hidup; soal pembatinan prinsip yang akhirnya mengalir secara alamiah melalui gerak hati, gelagat dan tindakan.

Lihatlah layanan PAS terhadap lidah pengarang Harakah edisi bahasa Inggeris, dalam isu kritikan terhadap ulama (awal 2002). Persatuan Ulama Malaysia (PUM) dan rakannya, Teras Pengupayaan Melayu (Teras), sibuk dengan sekumpulan penulis (termasuk Dr Farish A Noor, penulis kolum malaysiakini) dan Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia (PKPIM) dengan konsert-filem, tidak jauh bezanya sikap Parti Keadilan Nasional terhadap akhbarnya Berita Keadilan (lewat 2002), semuanya menghayati budaya kekangan, tidak tahu berhujah dengan akal sihat.

‘Perkara idea’ yang kecil ditundukkan dengan kekerasan keputusan jama’i, kolektivisme yang merosakkan, membayangkan betapa angkuhnya kekuasaan atau kepimpinan organisasi. Sejenis tyranny of the majority. Gejala-gejala ini mengingatkan kita kepada pesan-pesan agung pemikir politik abad ke-19.

"The will of the people, moreover, practically means the will of the most numerous or the most active part of the people; the majority, or those who succeed in making themselves accepted as the majority; the people, consequently may desire to oppress a part of their number; and as much needed against this as against any other abuse of power," pesan John Stuart Mill di awal mukadimah On Liberty.

Sikap dan budaya yang sama dihayati oleh beberapa mufti dan majlis agama Islam negeri terhadap penulis kolum Mingguan Malaysia atau editor Al-Islam, Astora Jabat. Tidak mampu menjelaskan dengan akal sihat, mufti-mufti cuba mengadu kepada Majlis Raja-Raja dan kerajaan untuk mengawal kegiatan penulis yang kerdil dan daif.

Seorang pemikir reformasi Iran yang dihormati sejak Revolusi 1979, Abdul Karim Soroush dalam Freedom, Reason and Democracy in Islam berhujah: "Seperti bunga-bunga liar di alam, iman akan tumbuh dan berkembang di tempat yang ia idamkan dan dalam aroma serta yang warna ia sukai. Masyarakat orang beriman lebih menyerupai belukar liar daripada taman (bunga) yang dirawat. Masyarakat ini terhutang aroma imannya pada jiwa liar yang bebas merdeka. Memasung jiwa ini sama sahaja dengan mencekik jasadnya.

Masyarakat agama

"Dalam pengertian inilah masyarakat agama, yang didasarkan pada iman yang bebas, pemahaman dinamis, dan kewujudan insan di depan Tuhan, pastilah demokratik. Jadi kepatuhan (orang ramai) yang penuh ketakutan dan keterpaksaan terhadap hukum agama tidak boleh dianggap sebagai ukuran masyarakat agama."

Kita sedar PAS sengaja menyembunyi gari-gari di pinggang mereka sebelum mendapat kekuasaan penuh, seperti kita faham apa erti senjata Akta Keselamatan Dalam Negeri (ISA) kepada Umno-BN.

Kita semua boleh bergerak tetapi apabila pengaruh pemimpin negara tergugat, tetamu tidak diundang menghumban kita ke kawah ISA. Boleh dibayangkan sekarang bagaimana imej siaran TV dan kulit depan majalah di pasaran sebaik sahaja PAS menggari kebebasan wartawan dan seniman.

Ingat! Beberapa tahun lepas, teater Tok Ampoo arahan penulis-aktivis Hishamuddin Rais, terbitan kartunis Zunar, lakonan penggerak mahasiswa yang pro-reformasi pernah dilarang dipentaskan (bagi kali kedua) di Markaz Tarbiyyah PAS di Taman Melewar, tidak jauh bezanya larangan di beberapa tempat lain oleh Umno. Apa bezanya sikap PAS ini dengan garispanduan lakonan pentas ciptaan baru Dewan Bandaraya Kuala Lumpur (DBKL)?

Parti Islam tidak perlu berpura-pura dalam hal ini, keluarkan kenyataan akhbar sekarang bahawa ‘Siti Nurhaliza akan dilarang’ menyanyi kecuali dia bertudung! Malah, akhirnya Siti tidak dibenarkan menyanyi kerana suaranya yang manis dan mukanya yang comel itu juga sejenis aurat!

Kita mahu perisytiharan hitam putih wajah dan susuk kebebasan akhbar di bawah pentadbiran PAS. Tidak guna membantu sebuah parti politik yang kemudiannya, apabila bersenang-lenang di takhta kekuasaan, kami terpaksa menyembah demi menyelamatkan diri daripada daulat ulama! Toleransi yang bagaimana PAS mimpikan?

Ini semua konsep dan akademik bunyinya tetapi parti yang yakin diri akan mengemukakannya sekarang, tanpa perlu bercabang lidah untuk berdolak-dalik kemudiannya. Siapa yang tidak arif gelagat orang politik kita? Apabila hendak sesuatu, rakyat dirasuah dan dibelai-belai. Apabila sudah berkuasa, sungguh angkuh dengan kekuasaan tetapi apabila terpelanting dari serambi kuasa, mula menuduh kerajaan semuanya tidak benar.

Saya mengakhiri lintasan-lintasan ringkas idea ini dengan kutipan dari John Rawls, A Theory of Justice: "Each person possesses an inviolability founded on justice that even the welfare of society as a whole cannot override. For this reason justice denies that the loss of freedom for some is made right by a greater good shared by others. It does not allow that the sacrifices imposed on a few are outweighed by the larger sum of advantages enjoyed by many. Therefore in a just society the liberties of equal citizenship are taken as settled; the rights secured by justice are not subject to political bargaining or to the calculus of social interests."
--------------------------------------------------------------------------------
Sedutan kertas diskusi yang bakal diedarkan dalam sesi ‘Dialog Penulis Tanahair-PAS’ pada 9 Februari 2004

Tulisan ini asalnya diterbit dalam Malaysiakini.com (3 Februari 2004). Ia diterbitkan semula di sini dengan izin penulisnya. Beliau dapat dihubungi di fathiaris@yahoo.com

Thursday, February 05, 2004

‘MALAYSIAN INDIES COME OF AGE’ Press Conference & Panel Discussion on 15 Jan 2004 at HELP INSTITUTE organized by KELAB SENI FILEM MALAYSIA – Report by Hassan Muthalib

Panel: Amir Muhamad, James Lee, Yasmin Ahmad, Ho Yuhang
Moderator: Wong Tuck Cheong

AMIR: My definition of Malaysian indie films – films that are eligible to participate in international film fests but not in the Malaysian Film Fest.

Funding? I’m using Japanese money at the moment.

Malaysian indies are different from other countries. All our films are digital or video. The Pakistanis & Bangladeshis who are working in Malaysia go back home & make their films on 35mm (Amir’s tongue in cheek!)!

In Japan, there are video shops that sell films from Asia (the Japs don’t consider themselves as Asian!). The distributors bring these films in. They carry films from almost every country, even Korea whom they hate. Works from every country except Malaysia. What will it take to get our films in their stores?

The gangsters in Thailand funded Thai films at one time. Thai films sell in Thailand. They have a big population & they love Thai films. Malaysian gangsters seem to have different priorities (more tongue incheek!).

At some festivals, the atmosphere is so business-like. The talk is all about marketing & distribution. We have to understand this in order to succeed internationally. We don’t know how to market our films. Recently at an international fest, a foreign producer was given a VCD of CINTA CHOLESTROL - & it had no English subtitles!

SANIBOEY (FINAS REP): FINAS provides a free booth for local producers to exhibit & sell their films. Indies can also participate.

The problem we face is that the decision makers are not knowledgeable about films. But changes are on the way.

YUHANG: There’s a filmmaker I met who’s never shot an urban film. It’s been all about his small hometown. Ultimately, films are about your own backyard.

Funding? Producer Lina Tan gave me money without even looking at my script! I have the pirates coming to me
to fund my films. They’ve got the distribution system all worked out. They told me they have outlets in Africa, India, etc. I just have to say yes.

We have gone beyond questions like how much did your film make. Now at festivals, I’m asked: What’s your next film? Time is crucial for us. You’re only as good as your next film. We can’t wait. The festivals ask: What’s your next film? We need funding now so that we can go on to our next film - & the next one. Festivals are as cruel as Holly-wood. If you don’t have a film in the works, they’ll stop contacting you.

KAMIL OTHMAN (MDC): Government bodies have noble intentions – the Ministry of Culture, Information & FINAS, etc. A body is required to represent the indies & it can’t be run by bureaucrats who no nothing about film. They have to have a love for film. They don’t see film as an artform yet. Indies have united here but this kind of unity does not yet have funding. At the moment, funding from MDC is only for students & lecturers, but we’re working on it.
.
JAMES: In a population of 25 million, it is sad to see that we have only about 10 indie filmmakers. We are so slow. KAKI BAKAR made it overseas in 1995. It’s taken so long for us to get recognized overseas. We have Thai films being shown in our theatres. When can we have a Malaysian film showing in Thai theatres?

Indie filmmakers like SPIKE LEE managed to break into Hollywood. We have to go the same way. But here people like YUSOF HASLAM & METROWEALTH are holding ground. After seeing the crap from METROWEALTH, I’m cheesed off with the way they hype their films.

I get calls from all over the world in my house in the middle of the night. They think DOGHOUSE (my company), is a professional one! I’ve gotten calls from agents of Columbia, Miramax, etc. who saw our films at international fests. They are paid to do ajob & they do it.

We’re thankful to SIFF (Spore Int Film Fest), in supporting us. They have only a small office in Chinatown with only a staff of 5 people - and they program 300 to 400 films a year!

YASMIN: I was impressed with BUKAK API & it inspired me to do my own film. It broke rules, showing things as never before. This kind of film can inspire others to express themselves through their own films. Then our films can become bigger & bigger. Are films important in the bigger scheme of things? I don’t know. But the more our films are noticed, the more we will be recognized - & then perhaps get the necessary funding.

How can we bridge the gap between indie & mainstream filmmakers? TEOH has done both. From commercials, he has photographed SPINNING GASING, EMBUN & PALOH. Also MALAIKAT DI JENDELA. OSMAN ALI is a prolific writer who writes so well. He has done TV dramas & is so uncontroversial & so bankable. Why is he not being offered to do features by the mainstream producers?

PHILLIP CHEAH (S’PORE FILM FEST): Participation in international festivals are good as the films get recognition. Festivals all over the world know that the mainstream producers will not fund indies, so some fests do provide funding. But TEN ON TEN is a good example of producers willing to take a chance on indie filmmakers.

HASSAN MUTHALIB: Help is on the way for indie recognition at the Malaysian Film Festival even though they are not members of the various Associations. Discussions are underway to have a special category in the 17th Fest this year.

WONG TUCK CHEONG: Datuk Shariff Ahmad of FINAS is actively supporting the indies by getting local corporations to sponsor some awards in the 17th Fest this year.

Wednesday, February 04, 2004

Pak Lah agenda for the nation

·IMPROVING the government delivery system;

·CALLING for a mindset change among Malaysians, moving away from the physical landmarks (the “hardware”) of development to the “software” part of development with emphasis on human capital;

·ZERO tolerance policy against corruption;

·REVITALISATION of the agriculture sector, including co-operatives, so that it could be a dynamic force of change;

·REFORM of the education system; and

·A “QUIET” foreign policy which emphasises on making friends with everyone.
Menjelang 100 hari Pak Lah sebagai PM

Tanggal 8 hari bulan Februari ini, genaplah 100 hari pemerintahan Dato' Seri Abdullah Ahmad Badawi sebagai Perdana Menteri Malaysia. Mengikut kata penganalisis politik, tempoh ini adalah suatu jangka masa yang amat penting di dalam memastikan kelangsungan dan daya kepimpinan seseorang pemimpin.

Kepada yang berjaya pastilah lega dan akan lebih mudah baginya untuk mencatur permainan seterusnya, namun bagi yang gagal, ianya pasti merungsingkan. Dan mengikut penilaian ini, Pak Lah dirasakan berada di kategori yang pertama dan pastinya andaian atau persepsi ini dapat dirasakan jika kita rajin membaca dan mendengar propaganda-propaganda di media-media arus perdana di negara ini.

Namun di sisi yang lain pula, ada yang merasakan Pak Lah telah gagal terutama di dalam beberapa perkara penting seperti isu ikat jamin Anwar, keganasan pihak polis terhadap aktiviti pembangkang dan juga penahanan berterusan terhadap tahanan ISA.

Walau apapun persepsi yang diberikan, aku amat bersetuju dengan pendapat kolumnis Malaysiakini, Aman Rais yang mengatakan adalah tidak adil untuk menilai kepimpinan seseorang PM hanya melalui selama 100 hari. Ini kerana tempoh 100 hari ini adalah suatu tempoh yang singkat dan segala macam retorik, mulut-mulut manis, idea, teori dsb
hanyalah merupakan agenda awalan Pak Lah sahaja.

Segala aksi atau implementasi hanya akan dapat digiatkan secara aktif selepas ini dan jika selepas tempoh enam bulan atau setahun masih tiada perbezaan seperti tiada dakwaan rasuah terhadap kes-kes besar seperti Perwaja, pencabulan hak asasi manusia dan kelembapan kakitangan awam tidak berubah, barulah kita boleh untuk menilai secara adil pemerintahan Pak Lah.

Namun begitu, harus diingat bahawa pemerintahan Pak Lah hanya berlangsung singkat kerana mandat yang ada hanya tinggal beberapa bulan sahaja. Oleh sebab itulah terdapat banyak pihak yang membuat andaian bahawa segala agenda yang diwar-warkan oleh Pak Lah hanyalah sekadar retorik untuk menghadapi pilihanraya semata-mata.

Apa kesudahan yang akan berlaku kepada Pak Lah adalah sesuatu yang amat menarik untuk ditonton, adakah Pak Lah akan menjadi seperti B.J Habibie di Indonesia? Tunggu dan lihat!

Not yet out of Mahathir's shadow
Filem, Aktres Korea dan Malaysia

Industri filem Korea yang semakin maju dan jauh meninggalkan negara kita seperti mana yang berlaku kepada pasukan bola sepak nampaknya sudah mampu bertapak di negara ini. Di mana sahaja kedai cd yang kita kunjungi, si penjual pastinya tidak akan lupa untuk memperagakan sama filem-filem dari Korea.

Jika dahulu, kita hanya diberi pilihan untuk membeli dan menonton filem-filem dari Hollywood, Bollywood dan Hong Kong sahaja. Namun kini, pilihan yang terbentang semakin pelbagai yang terkadang secara tidak langsung boleh mengempiskan kocek.

Selain filem Korea, filem-filem dari negara jiran kita iaitu Thailand juga semakin mula diminati dan diterima ramai. Drama bersiri dari Thailand seperti Untukmu dan E-Pring yang ditayangkan di Astro Prima juga telah berjaya menarik dan mengumpul khalayak.

Pada mata kasar, kelihatan modus operandi yang digunakan untuk memancing penonton menonton filem Thailand adalah sama seperti yang diguna pakai negara Korea melalui Winter Sonata. Sama ada ia dirancang sebegitu rupa atau tidak, itu tidak pasti.

Jika di KL, tiada tempat selain kedai-kedai vcd di bawah tanah S&M Arcade yang dapat menandingi harga dan kepelbagaian pilihan yang ada di sini. Harga yang ditawarkan di sini amat murah dan jika anda seorang pelanggan yang setia, harga yang sedia ada murah itu akan bertambah murah lagi, cheap gets cheaper seperti Tesco.

Sebagai contoh, jika anda membeli vcd drama Summer Scent yang bersarikata BM di kedai-kedai cd utama seperti Tower Records, Speedy dan Music Valley, harga yang perlu dibayar pembeli adalah sebanyak RM159.90. Manakala di sini, pembeli hanya perlu membayar sebanyak RM99.90 bagi produk yang sama.

Jadi, jika ingin mendapatkan vcd-vcd filem Korea yang terbaru dan juga yang lama, sila berkunjung ke tempat ini dan anda pasti akan puas hati dengan pelbagai pilihan yang terbentang di depan mata. Tapi awas, sila jangkakan satu layanan pembantu jualan yang membosankan, tidak komited, kurang pengetahuan tentang produk dan tidak mesra.

Berbalik kepada filem Korea, apa yang menakjubkan tentang industri filem Korea ini adalah tentang barisan pelakonnya yang begitu ramai sehinggakan sukar untuk mengingat setiap seorang pelakon yang membintangi sesuatu filem. Ini sama sekali berbeza dengan senario yang berlaku di sini di mana setiap kali filem ditayangkan, muka dan nama yang sama sahaja tertera, Erra, Apek, Rosyam......macamlah sudah tiada pelakon lain di negara ini.

Satu sindrom yang dapat dihidu di sini ialah menjadi budaya kepada pelakon yang sedang dan sudah popular untuk mengaut segala tawaran yang datang tanpa memikirkan mutu dan skrip dengan bersandarkan alasan rigid orang Melayu, sudah rezeki.

Situasi ini berbeza di negara Korea yang walaupun menerbitkan puluhan filem setahun, sukar untuk melihat seseorang pelakon yang sama ada popular atau tidak berlakon lebih daripada dua filem setahun. Sebagai contoh, pelakon filem My Sassy Girl, Jeon Ji Hyun hanya membintangi lima buah filem sejak mula berlakon pada tahun 1999. Walaupun begitu, mungkin terdapat faktor-faktor lain yang menyebabkan situasi di kedua-dua negara ini sama sekali berbeza yang masih belum dapat dirungkaikan oleh penggiat-penggiat dunia filem Melayu di negara ini.

Walau apapun, sesuatu harus dilakukan untuk mempelbagaikan wajah pelakon-pelakon utama filem Melayu Malaysia demi kebaikan semua. Mana perginya pelajar-pelajar lakonan dan pelakon-pelakon muda yang lain, tidak mencuba atau sudah mencuba lalu gagal kerana nilai komersial tidak setaraf Erra dan Rosyam. Kepada penerbit, tidakkah anda berminat untuk mencari pelakon yang ada nilai komersial dan juga nilai intelek yang baik?

Korean film report- 2004
Korean film report- 2003
Films Released in 2003
Actors and Actresses of Korean Cinema